Sponsor

Pelet Bulu perindu
punya masalah dengan asmara,
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang.

Koleksi Pelet Gratis?
masuk sini koleksi supranatural gratis
Dijamin anda gk bakal pergi kecewa

Rabu, 25 Agustus 2010

ANAKKU DIGANGGU BEGU GANJANG

Penulis : HERI





Setiap malam anakku menangis ketakutan, sehingga dia nyaris mati. Ternyata, semua ini disebabkan oleh kehadiran sesosok Begu Ganjang. Makhluk menakutkan itu sengaja dikirim oleh seseorang yang merasa sakit hati padaku. Bagaimana kisah mistisnya...



Aku seorang guru swasta di sebuah SMK di kotaku. Sebagai guru swasta, aku harus tahu diri karena gajiku tidak besar untuk memenuhi semua kebutuhan hidupku. Aku mengutamakan kebutuhan pokok terlebih dahulu, baru kemudian sisanya untuk kebutuhan lain. Apalagi aku sudah punya keluarga.

Isteriku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi itu bukan suatu masalah selagi dia masih bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Toh, sebelum memutuskan untuk hidup bersama, sudah ada komitmen di antara kami untuk siap menjalani hidup susah, maupun senang, dengan penuh keterbukaan dan pengertian.

Setelah setahun usia perkawinan kami dikarunia seorang putera. Aduh, hatiku senangnya bukan main. Semula kami tinggal menumpang di rumah orang tuaku. Namun dengan kehadiran si kecil aku harus mencari rumah kontrakan. Isteriku juga setuju dengan keputusan ini.

Akhirnya, sebuah rumah mungil di dalam gang tak jauh dari tempatku mengajar telah memikat hatiku. Meski tidak besar, tapi arsitekturnya yang bagus membuat rumah itu kelihata mewah. Kami pun memutuskan untuk mengontraknya dan tinggal di sana.

Saat itu kuingat, 17 Agustus 2003. Aku dan beberapa sanak keluarga membantu kepindahan kami. Siangnya kami habiskan dengan makan bersama. Hari petama itu kami nikmati dengan tawa dan canda, juga tentu dengan kebahagiaan. '

Namun, setelah hari kedua, ketiga, dan satu minggu sudah berlalu, mendadak suau sore kami kehadiaran tamu laki-laki yang mengaku suaminya pemilik rumah itu. Katanya dia tidak terima rumah itu kami kontrak, sebab semua itu tanpa sepengetahuannya dan sepeserpun dia tidak menikmati hasil kontrak rumah itu.

Akhirnya, dengan bersikukuh dia meminta kami untuk segera meninggalkan rumahnya, walau aku sudah menunjukkan kwitansi dan segala macam bukti penyewaan. Tentu aku tidak begitu saja menerimanya. Aku hanya mau keluar dari rumah itu jika seluruh uang kontrak yang kuberikan dikembalikan seratus persen.

Setelah mendengar jawabanku seperti itu, laki-laki paruh baya yang berwajah keras itu keluar dan pergi meninggalkan aku dan iteriku. Namun, sebelum pergi dia sempat mengeluarkan ancamannya, "Aku harap kau tidak menyesal jika suatu saat terjadi sesuatu atas keluargamu!"

Jujur saja, aku tidak begitu perduli dengan ancaman itu. Walau demikian, isteriku agak sedikit takut dibuatnya. Mungkin dia merasa lelaki itu tidak akan akan main-main dengan ancamannya.

Sepekan setelah peristiwa itu, aku mulai melupakan semua yang terjadi. Agaknya, begitu pula dengan isteriku. Rasanya hanya membuang waktu dan tenaga, toh lebih baik mencurahkan perhatian pada putera kami yang sedang sakit. Beberapa hari ini dia merengek terus. Terlebih bila menjelang Maghrib. Dia akan mengangis sampai menjelang subuh. Entah apa yang dirasakan olehnya. Kami sudah membawanya ke dokter, dan dokter hanya mengatakan bahwa anak kami terkena demam biasa. Namun, setelah diberi obat turun panas dan suhu tubuhnya turun, dia tetap saja menangis hampis sepanjang malam.

Sore itu, seusai shalat Maghrib aku tak sempat berdoa lagi, sebab anakku menangis dengan suara keras, bahkan lebih keras dari malam sebelumnya. Isteriku tampak bingung. Makhlumlah, kami masih belum punya pengalaman apa-apa menghadapi anak yang menangis seperti itu.

Dari gendongan isteri berpindah ke gendonganku. Kutimang dengan bujukan-bujukan. Namun ini semua tak meredakan tangisnya. Akhirnya aku kewalahan., begitupun dengan isteriku. Dia bahkan ikut menangis karena panik.

Ibuku yang malam itu kebetulan menginap di rumah kami juga tak kuasa mendiamkan tangis cucunya. Karena tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan, akhirnya kupaksakan kakiku untuk melangkah mengajak isteriku ke dokter walau arlojiku sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ya, siapa tahu dokter akan lebih banyak membantu.

Entah pukul berapa saat aku mengetuk pintu rumah tempat praktek salah seorang dokter spesialis anak di kotaku. Bel pintu sudah berkali-kali berdering dan tetap tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Aku putus asa. Malah si abang becak yang kami tumpangi ikut mamanggil-manggil dokter itu. Hasilnya sama saja.

Ternyata dokter itu tak kunjung membukakan pintu. Dengan sisa kekuatan hatiku, kuajak si abang becak mengayuh becaknya ke praktek bidan tempat isteriku bersalin dulu. Aku berharap, paling tidak akan ada solusi buat anakku untuk meredakan tangisnya. Namun, harapanku juga sirna, sebab bidan itu sepertinya juga tak sudi membukakan pintu..

Tanpa sadar, air mataku mengalir. Kulihat puteraku yang sudah tenang di pelukan ibunya. Hatiku sedikit sejuk.

"Sudah tidur dia?" tanyaku pelan.

Isteriku yang sepertinya sudah begitu lelah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Kulihat matanya juga berkaca-kaca.

"Bagaimana kalau kita bawa ke mantri di ujung sana, Pak?" saran si tukang becak.

"Abang kenal sama mantri itu?" Tanyaku kemudian.

Giliran si abang becak yang mengangguk. Aku yang sudah pasrah cuma manut. Kembali becak berjalan pelan membelah malam yang kian legang. Dan anakku pun sudah benar-benar pulas. Apa sudah tidak sakit lagi? Bisik batinku, bingung.

Mantri ini ternyata cukup berbaik hati sebab mau menerima kami. Namun, anakku hanya diberi Primperandrop untuk masuk angin atau kembung. Dan, menjelang dinihari itu kami pun memilih untuk pulang.

Setiba di rumah, anakku yang sepanjang perjalanan tertidur pulas, kembali menangi sejadi-jadinya. Aku tak bisa tidur lagi. Kuhabiskan malam dengan tahajud. Aku berdoa untuk memohon petunjukNya.

Karena hampir setiap malam anak kami selalu menangis, maka istirahat kami pun terganggu. Bahkan yang lebih parah lagi, puteraku tidak mau lagi menyusu atau diberi susu botol oleh ibunya. Aku semakin resah. Padahal, sudah beberapa kali kami bawa ke dokter spesialis anak di kotaku. Tapi, putraku tetap menangis bila malam tiba, dan dia tak mau lagi menetek.

Akibat kelelahan fisik karena kurang tidur dan pikirannya, isteriku pun akhirnya jatuh sakit. Bersamaan dengan itu para tetangga juga menceritakan tentang munculnya makhluk hitam tinggi dan besar di jendela rumahku. Berita itu begitu santer, karena sering warga sekitar beberapa kali melihat makhluk hitam misterius itu melongok ke jendela kamarku.

Seakan melengkapi cerita aneh para tetangga, pernah juga di suatu malam, aku dikagetkan oleh suara hingar bingar diluar rumah. Pintu depan rumahku jelas seperti digedor keras dari luar. Anehnya, cuma aku yang mendengar. Saat aku keluar, ternyata tidak siapa pun diluar. Hanya hembusan angin yang cukup dingin membuat tubuhku menggigil menahan takut.

Bersamaan dengan itu anakku di dalam kamar kembali menangis. Tangisan yang membuat hatiku kian pilu. Saat kondisi begitu, aku tidak sanggup berpikir jernih lagi. Kalut dan tak menantu.

Hari-hari yang kami lalui semakin redup dari tawa dan canda. Jujur, batinku berperang dengan segala keyakinan yang kuanut. Kepasrahanku sudah bayiku yang kian pucat dan kurus itu kepada ketentuan Illahi. Dia lebih sering menangis kendati suaranya sudah hampir hilang. Padahal, dokter anak yang memeriksa anakku tidak menemukan penyakit apa-apa.

Di saat keadaan semakin kacau. seorang teman menyarankan agar aku menemui orang pintar. Walau kuanggap itu konyol, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku membawa putera dan isteriku ke salah seorang paranormal. Hasilnya membuat dadaku terasa menggelegar.

Ya, kata si paranormal, rumahku sedang diganggu oleh Begu Ganjang. Karena itu, setiap dibawa masuk ke rumah, maka puteraku akan menangis terus. Dan makhluk hitam yang dilihat oleh beberapa tetanggaku itu adalah sosok Begu Ganjang yang dimaksud. Ditegaskan juga, Begu Ganjang itu kiriman dari seseorang yang memang sakit hatiku padaku.

"Rumah itu harus segera dibersihkan dengan ritual pengobatan khusus. Ini dimaksudkan agar anak kalian berdua tidak semakin parah sakitnya," kata si paranormal dengan suara tenang.

Aku menyanggupinya. Dan, malam itu aku tak diizinkan membawa anakku pulang ke rumah yang kami kontrak. Walau terasa berat, mau tidak mau kami menginap semalam di rumah orangtuaku.

Di malam yang sama, paranormal itu melakukan ritualnya. Dengan air yang telah diberi doa-doa dan kembang setaman, dia menyiram setiap sudut rumahku. Satu hal yang tidak bisa kuterima akal, dari depan rumahku tanpa harus digali keluar sebuah bungkusan kain putih. Ketika dibuka, isinya puluhan jarum, jeruk purut, paku, ratusan ekor ulat dan lalat kecil.

"Bagaimana kalau kita balas semua perbuatan ini, Mbah?" ucapku di tengah keheningan.

Si paranormal meliriku. "Apa tidak lebih bagus kita bersyukur, karena Gusti Allah masih melindungimu?" katanya dengan suara bijak.'

Namun, aku yang merasa begitu tersiksa akibat teror gaib ini, sungguh tak bisa memaafkan di pelaku dengan begitu saja. "Aku akan siap membayar berapa saja asal si Mbah mau membalas kebusukan ini!" kataku dengan suara bergetar.

"Gusti Allah Maha Pengampun, Nak. Percayalah, siapa yang menabur benih pasti akan menuai hasilnya!" ucap si Mbah sambil membenahi bungkusan aneh yang baru ditemukan tadi.

Aku menunduk malu. "Maaf, Mbah. Aku terlalu larut dengan emosi," kataku. Si Mbah cuma senyum menanggapi.

Benar juga, semua biar Allah yang menentukan. Berbuat baik hasilnya baik, dan kalau kita tabur benih buruk hasilnya juga akan buruk.

Sejak ritual yang dilakukan Mbah paranormal bijak itu, hari selanjutnya aku makin sering bertahajud. Annaku juga sudah mulai berangsur sehat dan tak lagi menangis. Namun, setelah satu minggu peristiwa itu, suatu pagi aku kaget bukan kepalang. Saat akan mandi, kulihat ribuan ekor belatung mengapung di dalam bak mandi.

Meski ngeri, aku langsung membersihkan bak mandi itu karena tak ingin melihat isteriku histerius. Mulutku tak henti-hentinya bertasbih. Apalagi ini gerangan ya Robbi? Bencana apa lagi yang akan kujalani? Bisik hatiku yang dihujani rasa was-was. Aku menguatkan batin dan berserah diri kepada Allah.

Malamnya, hujan turun deras sekali. Mataku rasanya sulit untuk terpejam. Mendadak, antara tidur dan terjaga, aku merasa ada orang yang menindih badan dan mencekik leherku. Aku blingsatan. Ingin teriak tapi suaraku seolah tertahan di dalam kerongkongan.

Aku kehilangan udara hingga dengan cepat peluh membasahi tubuhku. Makin aku berontak bayangan hitam itu semakin kuat menghimpitku. Ya, Tuhan! Wajahnya begitu dekat di depan mataku. Sosok tubuh hitam itu besar dan penuh dengan bulu. Gigi taring dan bola matanya yang merah, juga seolah hendak mengoyak-ngoyak tubuhku. Syukur aku mampu bertahan. Kuingat segala lafadz zikir yang kutahu dan kucoba membacanya dengan khusyuk.

Rasanya seperti menjalani sebuah pekerjaan berat. Badanku terasa begitu lelah. Namun, aku bersykur. Akhirnya bayangan itu hilang begitu saja.

Kejadian aneh ini tidak hanya berlangsung sekali. Malam berikutnya aku mulai mengalami mimpi-mimpi yang mengerikan seperti datangnya sosok hitam yang menjulang tinggi dari arah jendela kemudian mencekik anakku. Aku menjerit sejadi-jadinya saat melihat anakku dikoyak-koyak oleh makhluk celaka itu. Kemudian aku terjaga dengan peluh dan nafas yang memburu.

Astagfirullah! Aku juga sering mengalami sebuah perkelahian baik dalam mimpi maupun antar sadar dan tidur. Allahu Akbar, Allah masih melindungiku.

Karena gangguan itu sudah semakin sering, akhirnya aku minta pagar gaib rumah dari seorang Kyai. Hasilnya, rumahku berangsur-angsur aman. Allah telah mendengar doa hambaNya yang teraniaya.

Suatu hari, seorang tetanggaku menyampaikan kabar yang sangat mengejutkan. Suami pemilik rumah kontrakanku yang dulu datang dan mengancamku, meninggal dunia. Ya Robbi! Aku tak tahu harus bicara apa. Aku hanya mengembalikan permasalahan ini kepada Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dialah yang tahu segalanya.

Beberapa bulan berikutnya, Allah memberikan rezeki padaku. Tekadku pun bulan untuk pindah rumah walau masa kontrakan belum habis. Bagiku ketenangan lebih dari segala-galanya.

Demikianlah kisah yang aku alami sekitar saru setengah tahun yang lalu. Dan puteraku kini sudah berumur dua tahun. Dia tumbuh sehat dan cerdas. Terima kasih atas karuniMu, ya Robbi!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar