Sponsor

Pelet Bulu perindu
punya masalah dengan asmara,
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang.

Koleksi Pelet Gratis?
masuk sini koleksi supranatural gratis
Dijamin anda gk bakal pergi kecewa

Jumat, 13 Agustus 2010

WIHDATUL AL-WUJUD DAN WIHDATUL MAUJUD

DITERJEMAHKAN DARI TULISAN SYEIKH ABDUL HALIM MAHMUD, MANTAN REKTOR AL-AZHAR, MESIR.

1. Kami ingin memulai secara langsung dengan menguraikan sejenak tentang batasan diskusi dalam tema tersebut, yakni kami ingin membicarakan tentang wihdah al-wujud (kesatuan wujud) dan bukan tentang wihdah al-maujud (kesatuan maujud). Hal yang maujud itu banyak sekali, seperti langit, bumi, gunung, laut, pepohonan, spesies manusia dan lain-lain. Semua yang maujud tersebut memiliki perbedaan bentuk, rupa, warna, rasa , makanan, ukuran beratnya dan lain-lain. Tak ada seorang pun dari kalangan sufi yang sejati – seperti Ibn ‘Arabi dan al-Hallaj – yang mengatakan tentang wihdah al-maujud. Kalau orang mu’min yang biasa saja tidak pernah mengatakan tentang wihdah al-maujud, apalagi orang-orang sufi – yang merupakan mutiara orang-orang beriman. Mereka sangat takut untuk mengatakan yang demikian.

2. Pembelokan makna wihdah al-wujud menjadi wihdah al-maujud, ternyata banyak pendukungnya dalam setiap periode waktu.

Pertama, pada saat ulama sufi mengatakan tentang al-wujud al-wahid (wujud yang satu), para musuh mereka justeru menjelaskan konsep al-wujud al-wahid tersebut dengan pendekatan filosofis, sehingga wihdah al-wujud difahami dengan wihdah al-maujud, padahal di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat besar. Namun demikian, kebanyakan musuh kaum sufi menggunakan segala cara yang penuh dengan kebohongan dan keduastaan demi mematahkan argumentasi kaum sufi. Dalam pandangan mereka, “tujuan bisa menghalalkan segala cara”.

Kedua, satu hal yang berpengaruh terhadap kesalahfahaman tentang konsep sufi mengenai al-wujud al-wahid adalah pendapat Imam al-Asy’ari yang melihatnya dari kacamata filsafat kalam, bahwa “wujud adalah maujud itu sendiri”. Pendapat yang bercorak filosofis ini tentu tidak disepakati oleh orang-orang sufi dan juga oleh kebanyakan para pemikir Islam dan para filosofnya. Dalam pendapatnya yang bercorak filosofis ini, Abu al-Hasan al-Asy’ari bisa saja salah dan bisa saja benar. Begitu juga pendapat dan pemikiran filosofis beliau yang lain, bisa jadi salah dan bisa saja benar.

Sedangkan mereka yang tidak sepakat dengan pendapat al-Asy’ari di atas, memandang bahwa wujud tidak sama dengan maujud. Dengan wujud ini, jadilah wujud al-maujud. Ketika orang-orang sufi mengatakan tentang al-wujud al-wahid, para musuh mereka – apapun madzhab mereka – menjelakan konsep tersebut dengan mendasarkan diri pada pendapat al-Asy’ari di atas, sehingga mereka mengatakan bahwa al-wujud al-wahid sama dengan al-maujud al-wahid. Penjelasan dengan cara seperti ini – yakni dengan mendasarkan diri pada pendapat al-Asy’ari – membuat pendapat mereka lebih bisa dipercaya di mata musuh-musuhnya.

Persoalan ketiga, yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa pendapat tentang wihdah al-maujud – dalam kacamata logika pembahasan – kurang bisa dibenarkan. Lagi pula gagasan tentang wihdah al-maujud yang tersebar di sana sini, merupakan sesuatu yang kacau dan menyesatkan, baik ditinjau dari segi maknanya maupun dari segi nilai filosofisnya, apa lagi konsep tersebut tidak dikenal dalam ajaran islam. Singkat kata, konsep tersebut – baik bentuk maupun maknanya – merupakan konsep yang menyesatkan.

Tambahan lagi, bahwa ungkapan wihdah al-maujud – yang sering dinisbatkan kepada al-Hallaj maupun kepada tokoh sufi yang lain – ternyata tidak pernah ditemukan dalam buku-buku mereka. Mereka tidak pernah menulis tentang konsep tersebut. Oleh karena itu, sangat jelas bahwa musuh-musuh mereka sengaja menisbatkan konsep tersebut kepada al-Halaj dan tokoh sufi yang lain, sehingga mereka memiliki alasan untuk menghukumi al-Hallaj dan kawan-kawan sebagai orang-orang yang kafir dan sesat.

3. Al-Wujud al-Wahid (wujud atau eksistensi yang satu)

Apakah ada hal yang meragukan dalam konsep al-wujud al-wahid tersebut? Sesungguhnya, itulah wujud Allah Swt yang ada dengan sendirinya tanpa membutuhkan sesuatu yang lain. Itulah wujud yang sebenarnya yang telah memberikan wujud kepada setiap yang ada. Tanpa wujud itu, maka sesuatu tidak mungkin ada. Wujud itulah Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Meng-ada-kan dan Yang Maha Membentuk Rupa.

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. Ali Imran; 6).

Dengan demikian, hubungan Allah Swt dengan manusia adalah bahwa Allah Swt memberikan wujud kepada manusia yang dikehendaki-Nya, dalam setiap saat dan tersus menerus, sehingga manusia bisa hidup dalam “bentuk atau rupa” yang sesesuai dengan kehendak-Nya. Sedangkan hubungan Allah Swt dengan makhluk yang lain atau segala yang ada, juga sama polanya dengan hubungan antara Allah Swt dengan manusia. Misalnya, “Allah Swt menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah” (Qs. Fathir; 41).

Yakni, Allah Swt mempertahankan wujud langit dan bumi, tetap mengatur keduanya dan tetap membuat keduanya berjalan seiring. Allah Swt mempertahankan langit dan bumi agar keduanya tetap ada dan berfungsi masing-masing. Jika Allah Swt tidak lagi “menahan” atau mempertahankan keduanya, maka keduanya akan binasa dan hancur berantakan.

Sesungguhnya Allah Swt senantiasa mengatur alam semesta ini. dia mengatur langit dan bumi, mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap yang bernyawa, mengetahui semua butir atom, bahkan yang lebih kecil dari itu pun Allah Swt mengetahui dan mengaturnya, begitu juga dengan makhluk-makhluk lain yang besar-besar. Semuanya – baik yang di langit maupun yang di bumi – tidak bisa lepas dari ke-Maha Tahu-an Allah Swt.

Tentang ke-Maha Pengaturan Allah Swt ini, al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskannya dengan sangat gamblang, agar manusia tidak terlena; agar manusia menyadari bahwa keberadaan mereka tidak bersifat abadi; agar mereka tidak mengikuti hawa nafsunya; agar mereka “melepaskan pandangannya” ke atas dan menyaksikan cakrawala Tuhan; agar mereka mentauhidkan Allah Swt dalam bentuk beribadah kepada-Nya dengan seikhlas-ikhlasnya. Suatu keikhlasan yang tidak bercampur dengan syirik yang berupa hawa nafsu, harta, meteri maupun naluri kehewanannya.

Kami ingin menggambarkan bagaimana pendapat al-Qur’an tentang hal ini. Sesungguhnya Allah Swt telah menghadapkan kita dalam surat al-Waqi’ah dengan berbagai pertanyaan yang biasanya kita lupakan;

o “Jelaskanlah (kepada-Ku) tentang air mani yang kamu pancarkan. Apakah kamu yang menciptakannya, atau Kami yang menciptakannya?”(Qs. al-Waqi’ah; 58-59).

o “Jelaskanlah (kepada-Ku) tentang apa yang kamu tanam? Apakah kamu yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (Qs. al-Waqi’ah; 63-64).

o “Jelaskanlah (kepada-Ku) tentang air yang kamu minum? Apakah kamu yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?” (Qs. al-Waqi’ah; 68-69).

o “Jelaskanlah (kepada-Ku) tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu)? Apakah kamu yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?’ (Qs. al-Waqi’ah; 71-72).

Dari beberapa ayat di atas, dapat diambil logika kebalikannya, yakni jika Allah Swt menghendaki, bisa saja Dia tidak menciptakan apapun, Dia tidak menjadikan suatu buah menjadi masak, Dia tidak menurunkan air dari awan, Dia tidak menumbuhkan kayu bakar, dan lain-lain. Sesungguhnya, di tangan Allah Swt lah segala urusan, baik yang positif maupun yang negatif. Di tangan Allah Swt lah urusan makhluk-Nya, apakah Dia mau menciptakan ataukah tidak.

Tidakkah kamu berfikir tentang “lemparan” yang kamu lempar? Sesungguhnya “bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (Qs. al-Anfal; 17). Tidakkah kamu berfikir tentang kemenangan dalam jihad(mu)? Sesungguhnya Allah Swt lah yang membuat kamu menang dalam berjihad. Sedangkan mereka yang terbunuh sesungguhnya “bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka” (Qs. al-Anfal; 17).

Begitu juga, Allah Swt lah yang telah memberikan rizki dan makanan bagi manusia.

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” (Qs. ‘Abasa; 24-32).

4. Ke-Maha Tahu-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah Swt sebenarnya telah dirasakan dan dialami oleh manusia, tetapi mereka tidak pernah memperhatikannya. Mereka seperti hewan yang tidak pernah berfikir dan merenungkan semua itu. Allah Swt tidak pernah “disemayamkan” dalam hati dan keinginan mereka. Keinginan dan cita-cita mereka hanya berurusan dengan bagaimana caranya mereka bisa mengisi perut mereka, menimbun emas dan permata, meraih jabatan dan bagaimana mereka mempertahankan kekuasaannya. Mereka mendengar ayat-ayat Allah Swt, tetapi tidak pernah merenungkannya. Ayat-ayat tersebut tidak pernah berpengaruh dalam diri mereka. Mereka tenggelam dalam ni’mat Allah Swt yang teramat banyak, tetapi semua ni’mat itu tidak membuat mereka berterima kasih dan bersyukur kepada Allah Swt. Allah Swt tidak “berada” dalam hati, pikiran, lingkungan dan kehidupan mereka.

Namun demikian, ada sebagian manusia yang tidak memiliki sifat-sifat di atas. Mereka itulah orang-orang yang tenggelam dan menyaksikan kebenaran dan cakrawala Ilahiyah, berenang dalam samudera-Nya dan menemukan mutiaranya. Mereka selalu bersyukur dan berterima kasih atas segala ni’mat dan karunia-Nya yang selalu mereka rasakan dalam setiap sendi kehidupan mereka, sehingga Allah Swt pun menambahkan ni’matnya kepada mereka. “Jika kalian bersyukur, maka Aku tambahkan (ni’mat-Ku) kepada kalian…” (Qs. Ibrahim; 7).

Mereka bertaqwa kepada Allah Swt dengan sebenar-benar taqwa, sehingga Allah Swt memberikan ilmu kepada mereka. Mereka menjadikan Allah Swt sebagai Petunjuk dan Penolongnya, sehingga Allah Swt pun memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan-Nya yang lurus dan menolong mereka terhadap diri mereka sendiri dan musuh-musuh mereka. Mereka secara terus menerus berusaha untuk merealisasikan makna tauhid, baik dalam ucapan, aqidah, perasaan maupun perbuatannya. Mereka betul-betul menghayati bahwa pernyataan Asyhadu an lailaha illallah mengandung makna yang sangat dalam yang tidak mungkin bisa dihayati oleh selain mereka.

Bagi mereka, makna syirik sangat jelas dalam bentuk yang tidak mungkin bisa difahami oleh orang-orang yang masih disibukkan oleh urusan duniai dan keluarga. Mereka hancurkan syirik dan berhala-berhalanya yang berupa hawa nafsu, syaitan, egoisme dan lain-lain. Singkat kata, mereka tutup semua pintu yang berpotensi menimbulkan syirik, agar syirik tidak bersemayam dalam hati mereka, baik syirik yang nyata maupun syirik yang tersembunyi. Dengan demikian, makna la ilaha illallah menjadi mantap dan kokoh dalam perasaan, tingkah laku dan maqam mereka. “… maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (Qs. al-Baqarah; 115).

Di manapun mereka berada, Allah Swt senantiasa bersamanya. Allah Swt lebih dekat kepada mereka daripada urat leher mereka sendiri. Allah Swt lebih dekat kepada mereka daripada teman dan keluarga mereka. Allah Swt meliputi mereka, sehingga mereka tidak melihat selain Allah Swt yang bisa mengokohkan langit dan bumi. Mereka tidak melihat selain Allah Swt yang bisa memudahkan urusan. Dalam pandangan mereka, tidak ada yang bisa memiliki kekusaan selain Allah Swt. Dia-lah yang memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang melengserkan kekuasaan dari tangan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia-lah yang memuliakan dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Mereka telah menjadi rabbaniyun. Allah Swt “ada” dalam penglihatan, pendengaran, anggota tubuh dan hati mereka. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah Swt.

5. Para sufi membantu mereka yang ingin menempuh jalan menuju Allah Swt dan melakukan jihad secara terus menerus agar manusia bisa melepaskan diri dari belenggu materi dan melepaskan pandangannya ke langit.

Para sufi berusaha untuk menghadapkan wajah manusia kepada Allah Swt melalui ni’mat-Nya yang telah mereka rasakan dan juga melalui ciptaan-Nya. Sungguh, Allah Swt telah menyempurnakan setiap ciptaan-Nya. Mereka menghadapkan wajah manusia kepada Allah Swt melalui bunga yang sedang berkembang; melalui pepohonan yang sedang tumbuh; melalui matahari yang bersinar cerah; melalui bulan yang bersinar lembut; dan melalui bintang-bintang yang bertebaran dan berada dalam orbitnya. Singkat kata, melalui semua cipatan-Nya yang ada di alam semesta ini, para sufi mencoba menjelaskan makna ayat di bawah ini;

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”(QS. al-Mulk; 1-4).

Bahasa kaum sufi adalah bahasa penghayatan, bukan seperti ungkapan “berbusa” para ulama kalam dan filsafat. Dalam bahasanya sendiri, kaum sufi memaparkan bahwa Allah Swt memberikan wujud kepada semua yang maujud; menjadikan yang berdiri bisa berdiri; membuat yang berjalan bisa berjalan; dan menyebabkan yang bergerak menjadi bergerak.

Allah Swt – dalam bahasa Ahli Sunah, khususnya penganut Asy’ariyah – adalah yang memotong, tetapi Dia bukan pisau yang memotong. Dia-lah yang membakar, tetapi Dia bukan api yang membakar. Dia-lah – ketika Dia menghendaki – yang berfirman kepada api: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Qs.al-Anbiya; 69), sehingga api pun menjadi dingin dan tidak membahayakan.

Setiap kali para sufi mengungkapkan tentang al-wujud al-wahid ini dan mengumandangkannya, orang-orang menganggap para sufi sudah melewati batas dan keterlaluan. Padahal, para sufi tidak akan melampaui apa yang telah digariskan oleh ayat al-Qur’an yang memberikan penggambaran tentang keagungan Allah Swt dan pengawasan-Nya, yang tidak berarti bahwa “yang satu” itu bersifat “menyatu” dan bukan pula “keterpaduan” antara Sang Khaliq dengan makhluknya atau antara Yang Disembah dengan yang menyembahnya. Ayat itu adalah:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”(Qs. al-Hadid; 3).

Ayat tersebut dan juga ayat-ayat lain yang telah kami sebutkan pada dasarnya bertujuan untuk mendorong kita menuju pengakuan atas ke-Maha Kuasa-an Allah, dan Maha Pengawasan-Nya, sedangkan pengawasan Allah meliputi semua hal. Ayat itu juga mendorong agar kita menghayati bahwa Allah swt mengarahkan manusia untuk “kembali berlari” menuju Allah dalam setiap urusannya, dan juga agar manusia mengagungkan diri-Nya sehingga terealisirlah pernyataan la illa ha illallah.

Lebih dari itu, semua yang dilakukan oleh para sufi senantiasa di bawah bimbingan al-Qur’an dan sunnah. Mereka menginginkan agar manusia menjadi rabbani. Namun jika masih banyak orang yang terlena di bumi ini dan hanya memandang ke arah “bawah”, maka itu bukanlah dosa atau kesalahan orang-orang sufi, karena mereka telah memenuhi kewajibannya yakni mengarahkan manusia kepada Allah swt.

Begitu juga, jika masih ada orang-orang yang tidak hanya terlena di bumi dan hanya memendang ke arah bawah saja, tetapi juga memusuhi orang-orang yang mengajaknya memandang ke arah langit dan mengarahkannya menuju Allah, maka mereka berarti telah memusuhi Allah dan rasul-Nya. Balasan bagi mereka sangat jelas yakni sebagaimana yang diaparkan dalam surat al-Ma’idah ayat 32.

6. Mungkin anda akan bertanya: “Kalau demikian, bagaimana dengan kasus yang menimpa al-Hallaj? Dan mengapa ia dihukum mati?”

Sesungguhnya kasus yang menimpa al-Hallaj yang sebelumnya menjadi rahasia kini rahasia itu telah terbongkar. Al-Hallaj adalah seorang pribadi yang teguh, beliau merupakan simbol bagi orang-orang jadzab. Di manapun beliau tinggal, banyak orang yang mengunjunginya dan ke manapun beliau pergi, banyak orang yang menyertainya.

Sebagaimana dengan para sufi yang lain, al-Hallaj juga mencintai keluarga (keturunan) Nabi sebagai konsekuensi cintanya beliau kepada Nabi Muhammad Saw. Pada saat itu, ahl al-bait (mereka yang merupakan keturunan Rasulullah Saw) memiliki ambisi untuk memerintah atau memegang tampuk kekuasaan. Oleh karena itu, Bani Abbas (yang sedang berkuasa pada saat itu) tidak menyenangi seorang pribadi seperti al-Hallaj yang mencintai ahl al-bait. Al-Hallaj tetap pada sikapnya, bahkan pengikutnya semakin banyak dan kuat yang tersebar dalam setiap tempat. Oleh karena itu, demi mempertahankan stabilitas pemerintahan, al-Hallaj harus dihukum.

Dengan demikian, hukuman mati yang ditujukan pada al-Hallaj jelas bermotif urusan duniawi, dalam hal ini adalah motif politik. Merupakan hal yang sangat mudah bagi penguasa untuk menjungkirbalikan hukum, mendatangkan saksi-saksi palsu, menyuap para hakim dengan harta dan kedudukan serta menuruti hawa nafsunya. Demikianlah, al-Hallaj dihukum mati dengan mengatasnamakan kepentingan agama. Bahkan beliau dituduh telah menyebarkan suatu pendapat yang sebelumnya tidak pernah beliau kemukakan dalam buku-bukunya. Itulah kasus yang menimpa al-Hallaj, dan tuduhan itu “tetap” menjadi misteri.

Menurut logika yang benar, “seorang arsitek tidak boleh memberikan “fatwa” tentang persoalan kedokteran, begitu juga seorang sasterawan tidak bisa memberikan keputusan tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para arsitek”. Dengan demikian, tokoh-tokoh besar seperti Ibn ‘Arabi, al-Hallaj dan Ibn Faridl tidak bisa dihukum oleh orang-orang yang belum sampai maqam mereka, atau setidaknya mendekati maqam mereka.

Salah seorang guru kami pernah ditanya: “Sesungguhnya si-Fulan telah mengkritik Ibn ‘Arabi dalam beberapa masalah”. Jawab guru kami: “Apakah seekor kumbang berhak untuk menghakimi perbuatan singa? Seekor kumbang tidak berhak untuk menghakimi perbuatan binatang buas, juga tidak berhak untuk membicarakan apa yang dilakukan oleh binatang buas, karena bisa jadi logika yang dipakai tetap logika seekor kumbang”.

Imam Syafi’i pernah berkata berkaitan dengan orang-orang yang mengkritik Imam Muhyidin Ibn ‘Arabi: “Sesungguhnya mereka itu seperti nyamuk yang meniup sebuah gunung dan menginginkan agar gunung itu bisa berpindah dari tempatnya karena tertiup angin yang dihembuskan nyamuk itu. Ini tentu tidak mungkin, karena gunung itu masih tetap kokoh menjulang tinggi. Dengan gunung itu, bumi menjadi menjadi kokoh dan dunia menjadi tetap seimbang”.

Imam al-Sya’rani juga pernah mengomentari orang-orang sufi secara umum dan Sayyidina Muhyidin secara khusus: “Dalam pandanganku, para penyembah berhala saja tidak berani untuk mengatakan terus terang bahwa berhala yang mereka sembah itu sebagai tuhan mereka, bahkan mereka hanya berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala itu), melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (Qs. al-Zumar; 3).Maka bagaimana mungkin mereka yang menjadi auliya Allah berani mengaku ‘telah bersatu’ dengan Allah swt. Ini adalah sangat mustahil bagi mereka, semoga Allah meridlai mereka”.

Oleh sebab itu, agar seseorang bisa memahami, maka ia harus sampai pada posisi yang setara, atau mendekati dengan posisi/maqam Imam Muhyidin, Ibn Arabi, al-Hallaj dan Ibn Faridl, semoga Allah meridhoi mereka dan memberikan kepada kami manfaat dari karya-karya mereka. Wa billah al-taufiq. @@@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar